Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

23 September 2013

Petruk Dadi Ratu


Menurut cerita pewayangan, Petruk yang sejatinya adalah anggota punakawan. Sama seperti Punakawan lainnya, Semar, Gareng, dan Bagong, mereka adalah abdi dalem istana. Abdi dalem sedianya adalah melayani Raja dan keluarganya. Oleh karena itu, tentu mereka tahu kebiasaan para keluarga Raja dan seolah 'tahu' apa yang diperbuat oleh Sang Raja. Hal inilah yang membuat hati Petruk berkecemuk, apalagi dia muda dan ganteng, kok ya... nggak pantes kalau cuma jadi abdi dalem. Karena sifat iri dan kurang mawas diri, dia lalu mendapatkan ajimat dan menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong. Petruk kemudian melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi main stream, model kekuasaan di mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak. Membuat ontran-ontran yang membahayakan kekuasaan para Dewa.

Sehingga akhirnya para pejabat politikus membuat skenario ‘mengeliminasi’ Raja biang keresahan itu. Persekutuan Raja-Raja Kecil dan Dewa dibentuk, guna melenyapkan suara sumbang yang mengganggu tatanan kenyamanan yang sudah terbentuk selama ini.

Hasilnya? Semua usaha untuk melenyapkan suara sumbang itu gagal total. Bukannya Prabu Kanthong Bolong yang mati. Tapi Raja jadi-jadian Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan Baladewa dibuat babak belur. Hanya akhirnya Sang Semar yang penuh kebesaran dan welas asih, yang tak lain adalah Ayahanda sendiri yang mampu melunakkan hati Petruk.

Hingga akhirnya Petruk kembali insyaf dan menjadi abdi dalem istana. Dia sadar, menjadi abdi dalem itu bukanlah sikap yang asor atau rendah, namun abdi dalem adalah Keluarga Istana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar